arsitektur

Retaining Wall: Definisi, Manfaat dan Cara Pembuatannya

Megabuild Indonesia
Posted 12 days ago9 mins read
Retaining wall kerap menjadi solusi dari masalah tanah longsor. Agar pembuatannya tepat, kenali jenis hingga cara konstruksinya di sini.
Retaining Wall: Definisi, Manfaat dan Cara Pembuatannya

Tanah longsor, erosi, dan pergeseran lahan, kerap menjadi tantangan serius dalam pembangunan. Solusi sederhana untuk mengatasi adalah dengan membangun retaining wall. 

Permasalahan ini kerap terjadi karena lanskap di Indonesia kebanyakan berkontur miring akibat banyaknya perbukitan. Karena itu, setiap pemilik rumah atau bangunan perlu membangun dinding penahan yang bagus. 

Melalui artikel ini, kami akan menginformasikan dengan lengkap apa itu dinding penahan, fungsi, manfaat, jenis, hingga cara pembuatannya. Sehingga Anda bisa membangun sesuai dengan kebutuhan bangunan. 

Apa Itu Retaining Wall?

Tanah longsor terjadi karena posisi tanah miring yang membuat gaya gravitasi lebih tinggi. 

Pemicu kejadiannya juga dari berbagai kondisi, seperti gempa bumi, deforestasi, hingga letusan gunung berapi. 

Inilah mengapa, ingin membangun rumah atau bangunan di daerah tanah miring memerlukan tambahan konstruksi berupa retaining wall. 

Konstruksi ini merupakan struktur yang solid supaya dapat menahan tanah secara optimal. 

Pembangunannya efektif untuk menahan tanah agar tidak mengalami longsor dengan struktur solid seperti beton. Model struktur pun berbeda-beda mengikuti dengan kontur tanah. 

Pembangunan dinding penahan tidak hanya terdapat pada tanah miring di area lereng pegunungan, tapi juga bisa di dataran rendah. Baik itu sungai, sky road, hingga basement gedung. 

Baca Juga: Rainwater Harvesting: Panen Air Hujan, Solusi Rumah Sustainable

Fungsi dan Manfaat Dinding Penahan 

Sebagai dinding penahan, fungsi utamanya adalah menghindari dari masalah longsor. Namun lebih dari itu, ada beberapa fungsi dan manfaat lainnya, seperti: 

1. Menahan Tekanan Gaya Lateral Tanah 

Setiap tanah bisa mengalami pergeseran berupa tekanan lateral yaitu dari atas ke bawah. Tekanan inilah yang mengakibatkan tanah runtuh dan terjadi longsor. 

Tidak hanya tanah, air juga memiliki tekanan lateral yang perlu diperhitungkan, terutama saat volume air meningkat dan mendorong tanah dari balik permukaan.

Dinding penahan bermanfaat untuk menahan tekanan gaya lateral tanah, sehingga area tersebut menjadi lebih aman.  

2. Menahan Tekanan Gaya Lateral Air  

Selain tanah, penting juga untuk membendung air agar tidak menimbulkan kerusakan. 

Penahanan tekanan air yang cukup besar dapat memanfaatkan  retaining wall, sehingga area sekitarnya menjadi aman. 

Dalam hal ini, pembangunan dinding penahan penting bagi area sungai atau pantai yang memiliki arus deras. 

Karena air yang berada di belakang dinding penahan akan memiliki tekanan hidrostatis yang arahnya pun lebih mendatar. 

3. Melindungi dari Rembesan Air 

Tanah memiliki kemampuan menyerap air, tapi dalam kondisi tertentu seperti hujan terus menerus bisa mengakibatkan longsor. 

Dinding penahan dapat melindungi terjadinya rembesan air ketika terjadi peningkatan permukaan air tanah. 

Fungsi retaining wall adalah untuk pengeringan air dengan memotong alirannya pada tanah. Dengan begitu, air tanah tidak akan menimbulkan longsor. 

Baca Juga: Manajemen Proyek Konstruksi: Strategi Efektif untuk Hasil Optimal

4. Menambah Estetika 

Selain keamanan, khusus untuk dinding penahan pada lereng bukit atau pantai bermanfaat untuk memberikan estetika pada ruang. 

Karena dengan membuatnya, kontur lahan yang tidak rata terlihat menjadi lebih rapi dan terstruktur. 

Pada sebuah hunian, dinding penahan kerap bermanfaat sebagai elemen pendukung taman vertikal. 

Kehadirannya akan memudahkan pemilik rumah untuk memasang tanaman hias yang indah. 

Jenis Dinding Penahan Tanah 

Dalam dunia konstruksi, ada berbagai jenis pembangunan dinding penahan sesuai dengan kebutuhan. Berikut ini jenis-jenis yang dapat Anda pilih: 

1. Dinding Penahan Gravitasi 

Termasuk jenis yang paling tua dengan memanfaatkan berat bahan pembuatannya agar tanah lebih stabil. 

Material yang biasa menjadi pilihan utama antara lain pasangan batu atau beton bertulang. 

Prinsip kerja dari penahan gravitasi adalah dengan memanfaatkan berat massa dari badan konstruksinya. 

Dengan begitu, konstruksi dapat menahan tekanan tanah lateral dari kestabilan struktur dan beratnya. 

2. Dinding Penahan Kantilever 

Cantilever retaining wall termasuk jenis yang modern, dengan bentuk T yang terbuat dari beton bertulang. 

Konstruksi tulangan berfungsi untuk menahan momen serta gaya lintang yang bekerja pada sisi kantilever dindingnya. 

Dalam strukturnya terdapat tiga bagian berupa dinding vertical, tumit tapak, dan ujung kaki tapak. 

Cara kerja dari dinding ini adalah mengandalkan daya jepit yang terdapat pada bagian dasar struktur. 

Bagian telapak yang memanjang pada dasar bertujuan menjepit dan menjaga kestabilan tanah dari masalah tekanan tanah di tebing. 

3. Dinding Penahan Model Turap 

retaining wall

Disebut juga dengan sheet pile, yang modelnya bertujuan menahan tekanan aktif lateral tanah. Model turap biasanya terbuat dari beton prategang serta kombinasi bersama bahan baja. 

Sangat cocok ketika Anda ingin membangun konstruksi bangunan tinggi yang memerlukan retaining wall basement. 

Dalam proses pemasangannya, memerlukan sistem angkur sampai dengan kedalaman tanah keras.  

Baca Juga: Cara Kerja dan Manfaat Solar Panel: Penjelasan Penting untuk Pemula

4. Dinding Penahan Gabion 

Salah satu retaining wall design yang cukup klasik dan biasanya digunakan untuk rumah dan perbukitan dekat dengan sawat. 

Strukturnya berupa kumpulan blok yang penyusunannya secara vertikal seperti terasering yang berundak. 

Blok dibuat dari anyaman kawat berbahan logam galvanis, kemudian diisi agregat kasar seperti batu kali. 

Tidak hanya untuk menahan tanah, fungsinya juga agar resapan air ke dalam tanah semakin tinggi. 

5. Dinding Penahan Beton 

Masih dengan retaining wall beton, yang memanfaatkan bahan blok beton cetak dengan sistem pengunci. 

Beton nantinya akan disusun miring mengikuti kontur tanah agar dapat menahan secara efektif. 

Dengan adanya sistem pengunci antar beton, dinding penahan akan memiliki konstruksi yang cukup kuat. 

6. Dinding Penahan Diaphragm 

Termasuk jenis dinding penahan yang berada di dataran rendah untuk membangun gedung bertingkat dengan basement. 

Nantinya basement dapat digunakan sebagai lahan parkir atau gudang penyimpanan. 

Dalam proses pembuatannya, perlu menggali tanah sesuai dengan kebutuhan kemudian menciptakan rangka besi beton. Rangka tersebut nantinya akan dicor dengan beton untuk menopang tanah. 

Selain untuk bangunan basement, model ini juga bagus untuk dinding penahan dengan fungsi pengeringan air. 

Pada beberapa titik beton akan dibuat saluran pembuangan air sehingga air tanah tidak menumpuk. 

7. Model Contiguous Pile dan Soldier Pile 

Sesuai dengan namanya, retaining wall ini memiliki struktur yang berupa rangkaian bored pile dan bentonite cement pile. 

Masing-masing struktur saling berkaitan sehingga menciptakan sistem yang kedap air. 

Sementara soldier pile adalah struktur konstruksi dinding penahan yang tidak kedap air. 

Pemilihan kedua model ini dapat menyesuaikan dengan posisi tanah maupun tingkat kemampuannya dalam menyerap air. 

8. Dinding Penahan Revetment 

retaining wall

Bagi area pantai, penting juga untuk membangun dinding penahan untuk mencegah terjadinya erosi air laut. Jenis dinding penahan yang paling utama biasanya adalah revetment. 

Tidak hanya pantai, revetment juga penting untuk sungai terutama yang memiliki aliran deras. 

Umumnya, bahan pembangunannya bisa berupa beton, bebatuan, hingga kayu tergantung besar kecilnya  arus. 

9. Dinding Penahan Kisi

Istilah lainnya adalah crib walls yang pembuatannya memanfaatkan potongan beton, precast, logam maupun kayu untuk menahan tanah. Penopangnya adalah angkur yang ditanam dalam tanah supaya menjadi lebih stabil. 

Bagus untuk area bukit yang rendah maupun tinggi. Semakin tinggi bukit, maka perlu adanya layer dalam pembuatan dinding penahan kisi agar lebih kuat. 

10. Dinding Penahan Bridge Abutment 

Jenis retaining wall yang memiliki beberapa fungsi yaitu menahan timbunan tanah, menahan tanah pada ujung jembatan, dan menopang struktur atas jembatan. 

Dalam pembuatannya, dinding penahan inilah yang akan menjadi penghubung antara badan jalan dengan jembatan. 

Pembuatannya biasanya mengandalkan beton bertulang yang akan menahan beban lateral dan vertikal. 

Konstruksinya juga memiliki sistem drainase agar bisa mengurangi tekanan air tanah dan jembatan tetap aman. 

11. Dinding Penahan Geosynthetic

Menjadi salah satu jenis dinding penahan dengan teknologi baru yaitu mengandalkan material geosintetik. Material ini memiliki ketahanan yang sangat tinggi terhadap tekanan tanah. 

Prinsip kerjanya adalah dengan memperkuat struktur dengan material sintetis yang pemasangannya berlapis dalam tanah. 

Dengan begitu, tanah serta geosintetik akan memiliki kesatuan struktur yang stabil. 

Cara Pembuatan Tembok Penahan Tanah 

Kesalahan konstruksi utama dinding penahan bisa menimbulkan keruntuhan. Karena itu, setiap step pembangunannya tidak boleh terlewatkan. Berikut empat cara pembuatannya: 

1. Perencanaan dan Menghitung Struktur 

Jauh sebelum bekerja di lapangan, penting untuk merencanakan pembangunannya dengan memilih jenis dinding penahan dan menghitung strukturnya. 

Perhitungan ini harus sesuai dengan desain dan kondisi tanah sekaligus beban tanah. 

Perhitungan ini nantinya juga menjadi modal dasar untuk mengetahui berapa kebutuhan material hingga waktu pengerjaan. 

Perhitungannya pun harus oleh tenaga ahli agar tidak terjadi kesalahan yang membahayakan konstruksi akhir. 

2. Persiapan Pra Konstruksi 

Dalam persiapan, banyak hal yang harus dilakukan mulai dari membersihkan lokasi sesuai dengan gambar rencana kerja. Semua batu, kerikil, hingga benda tajam lainnya harus bersih. 

Kemudian, persiapan pembuatan bekisting sebagai pondasi konstruksi bisa menggunakan kayu atau besi baja sesuai dengan jenis retaining wall. Ketebalan bekisting kurang lebih sekitar 50 cm untuk setiap lapisan. 

Material pembuatan dinding penahan kemudian dipersiapkan pada area konstruksi agar memudahkan pengerjaan.  

3. Proses Instalasi 

Setelah pondasi selesai, proses instalasi berlangsung berupa pengisian dengan material utama. 

Bahan utama seperti adonan beton akan diisi ke dalam pondasi sampai penuh sesuai dengan rancangan awal. 

Pengisiannya satu per satu sesuai dengan layer dan dipadatkan serat menunggu hingga kering. 

Setelah setiap lapisan terisi dan kering, maka bekisting akan ditarik keluar dengan hati-hati agar tidak rusak. 

4. Pengerjaan dan Pengecekan Akhir 

Pada jenis tertentu, pengerjaan akhir akan termasuk menambahkan cover lereng atau bronjong sebagai tambahan proteksi. 

Biasanya pemakaiannya ada pada lereng bukit yang tinggi, bertujuan mencegah terjadinya longsor jika tekanan terlalu kuat. 

Setelah itu, baru mengecek detail retaining wall sebelum proyek selesai. Pengecekan ini untuk meninjau apakah terdapat retakan yang bisa memicu terjadinya kerusakan jangka panjang. 

Jika terdapat kerusakan kecil, maka perlu perbaikan segera agar tidak menimbulkan kerusakan yang berbahaya. 

Perkenalkan Solusi Retaining Wall Anda ke Pasar yang Lebih Luas!

Anda memiliki bisnis yang menawarkan solusi tepat untuk membangun dinding penahan? 

Raih pasar yang lebih luas dan dapatkan potensial klien dengan berpameran di Megabuild Indonesia. 

Pameran yang selalu dihadiri oleh ribuan visitor potensial untuk bisnis Anda ini bisa menjadi ajang yang tepat untuk memperluas jangkauan. 

Anda bisa melakukan demo atau melobi klien secara langsung dan mendapatkan kontak lebih banyak. 

Anda bisa booking booth pameran sekarang juga karena slot terbatas. Jangan lupa untuk informasi terbaru dan lengkap Anda juga bisa ikuti Instagram Megabuild Indo dan LinkedIn Megabuild Indo!

arsitektur
Share this post